Friday, April 22, 2016

Mengharap pelita dalam kegelapan di desa Dullah Laut

Tawa riang bersama, anak-anak di Desa Dullah Laut

Perahu-perahu hilir mudik yang mencari rumput laut dan memancing ikan sangat jelas terlihat di pelupuk mata. Tawa riang anak-anak serta sorak sorai para ibu-ibu begitu ramai terdengar di dermaga kala ada sebuah perahu pulang membawa hasil tangkapan laut untuk hari ini. Anak-anak itu pun mengambil ikan untuk dijadikan bahan permainan bersama kerabat, lari kesana-kemari diikuti tarian sang awan dan hembusan angin bersamanya. Terlihat pemandangan yang sangat bebas! begitupula dengan sang nelayan yang mendadak menjadi artis di pagi hari, para ibu-ibu mengerubutinya untuk membeli ikan, cumi, udang, lobster untuk santapan lauk siang ini. Suasana desa pesisir pantai sangat kental terasa disini, di pulau Dullah laut!

Desa Dullah laut terletak di kecamatan Dullah darat, kepulauan Tual,Maluku Tenggara. letaknya sekitar +/- 617km dari kota Ambon atau 2 hari menggunakan kapal perintis dari pelabuhan Ambon. bisa dibilang Desa ini tidak begitu jauh dari kota ambon sedangkan dari kota Tual sendiri hanya berjarak 30km atau 20menit dari pelabuhan Dullah darat menggunakan perahu kecil atau speed, begitulah masyarakat Maluku menyebutnya. Maklum sebagai daerah kepulauan, speed sangatlah diperlukan sebagai transportasi utama masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk menuju desa Dullah laut, hanya perlu merogoh kocek 5000 rupiah saja dari pelabuhan Dullah darat.

 ***

Sesampainya di dermaga, suasana asri pedesaan pun langsung menyambut. Bagaimana tidak, mata-mata tajam serta ingin tahu masyarakat menyambutmu mulai dari anak-anak, pemuda-pemudi, orang dewasa hingga orang tua langsung keluar menatapmu heran bak turis yang terdampar di sebuah desa asing. Langkah-langkah kaki yang hanya beralaskan tanah mengikutimu dengan memamerkan gigi putih serta senyum manis khas orang timur yang akan meluluhkan hati bagi siapa saja yang melihatnya. Memang di Desa ini jarang ada orang luar yang berkunjung, hanya ada beberapa kegiatan yang pernah diadakan disini yaitu Ekspedisi NKRI 2014, KKN dari salah satu Universitas di Maluku dan yang terakhir Ekspedisi Nusantara Jaya 2015.

Mata-mata curious yang selalu membuatku ingin kembali ke sana
Karena letaknya yang tidak terlalu jauh, desa di pulau Dullah laut bukanlah sebuah desa yang tertinggal pikir kami, tidak seperti desa-desa di pulau Selaru, Adaut, Marsela yang sedikit lambat dalam pembangunan infrastruktur serta fasilitasnya yang jauh dari kata memadai karena terbatasnya akses transportasi dari ibu kota yang menjadikan mereka pulau-pulau terluar Maluku Tenggara Barat Daya. Tetapi ternyata, dugaan itu pun salah besar.  Keadaan penduduk di desa ini bisa dibilang cukup memprihatinkan dari fasilitas maupun segi pendidikan. Dullah laut dihuni oleh dua perkampungan yaitu satu desa dan satu dusun. Desa dullah laut dan dusun Duroah, dengan pak H. Muhadi Rahaded sebagai kepala desa dan pak Herman Yamco sebagai kepala dusun membuat desa Dullah laut cukup tentram dan terorganisir dengan baik.

Di pulau Dullah laut, terbagi menjadi dua kampung yaitu kampung muslim yang sebagian besar ada di desa Dullah laut dan kampung kristiani yang menetap di dusun Duroah. Masih terasa sedikit hawa-hawa perbedaan agama kala pertama kali menapakkan kaki di sini. Ketika kami berkunjung ke kampung Kristiani, masyarakat menyambut kami dengan hangat tetapi, hal pertama yang diajukan adalah apa agama kamu? darimana asal kamu? senyum kecut serta kerut kening menghiasi ekspresi wajah ini. Mungkin hal itu ada hubungannya dengan peristiwa berdarah antar agama 1991 di Maluku, pemikiran positive kami mengantar.

Permasalahan yang ada Di pulau Dullah laut adalah hanya terdapat 3 bangunan sekolah dan 5 sumber mata air atau sumur yaitu dengan pembagian:
• 1 sekolah dasar dimasing-masing kampung
• 1 sekolah menengah pertama.
 • 3 sumur untuk kampung muslim dan 2 sumur untuk kampung kristiani.

Mengambil air sejauh +/- 2Km
* Air! 
Jadi siapa yang bilang, mata air su dekat? Untuk hanya mengambil air masyarakat harus rela berjalan kurang lebih 2km menuju sumber mata air, walaupun jumlah debit pengambilannya tidak dibatasi namun hal itu sungguhlah berat terasa. Tak perlu tanyakan apakah masyarakatnya memiliki toilet pribadiatau tidak, jawabannya tentu tidak! Setiap pagi dan sore kalian akan menyaksikan pemandangan unik dimana masyarakat di desa Pulau Dullah laut yang membentuk barisan untuk membuang hajat di tepi pantai, jadi sedikit berhati-hati untuk berjalan-jalan di pinggir pantai. Apabila tidak teliti, nanti bisa salah injak. Mungkin dahulu sempat ada toilet umum di sini, terlihat 2 bangunan terbengkalai yang sudah lama tak digunakan. Entahlah apa yang menyebabkan toilet umum itu terhenti fungsinya.

Oh iya, hanya ada 2 sumber mata air tawar di sini, sisanya hanya air payau yang dirasakan. Tidak begitu lengket dibadan memang tetapi cukup terasa asin bila terkena lidah dan membuat kulit ini tak nyaman ketika menyentuh airnya. Memilih untuk tidak mandi selama 6 hari dibandingkan merasakan ketidaknyamanan dikulit, Jorok sekali!

*Listrik! 
Surya panel yang sekarang hanya dijadikan lahan bermain kambing
Suara grung...grung yang berasal dari genset sedikit memekakan telinga, genset hanya bisa digunakan dari jam 6 sore hingga 2 dini hari. Itu pun tak semua penduduk memiliki genset pribadi, bisa dibilang hanya warga dengan kantong sedikit tebal yang memilikinya. Kita bisa melihat senter, lampu petromax serta lilin-lilin yang menghiasi sudut-sudut tiap bangunan. terlihat pula ada kabel-kabel yang terputus menggantung dipepohonan serta tiang listrik keropos yang dahulu berdiri kokoh dipertigaan sudut jalan. Pernah ada pelita yang menerangi desa ini. Menurut cerita pak H. Munadi dahulu PLN pernah masuk ke sini, tetapi gardu itu sempat mengalami kebakaran. Di sini juga terdapat panel tenaga surya, tetapi sekarang gardu panel tersebut hanya digunakan sebagai lahan bermain kambing milik warga desa. Begitupula dengan panel tenaga surya yang mengalami hal serupa dan sempat diperbaiki gardu-gardu tersebut ditahun 2011 tetapi lagi-lagi mengalami kebakaran karena kelalaian masyarakat yang menggunakan listrik secara berlebihan. Sekarang sang listrik pun hanya tinggal cerita, dibiarkan rusak begitu saja!
Berhembus kabar burung kalau PLN Maluku berjanji akan menerangkan desa-desa di pulau-pulau terluar Maluku sebelum tanggal 17 Kemerdekaan Indonesia. Harapan besar bagi semua warga di desa-desa pulau tersebut dan semoga semua warga negara Indonesia merasakan kemerdekaan diseluruh pelosok negeri ini.

***

Belum adanya fasilitas yang memadai serta keterbatasan yang dimiliki pastinya membuat kegiatan roda kehidupan sehari-hari mengalami kemajuan yang lambat. Hal ini sangat amat menarik bagi kita terutama Pemerintah daerah dan pusat untuk melakukan pemerataan pembangunan, baik dibidang pendidikan maupun fasilitas. Sebuah potret kehidupan pembangunan yang belum seimbang selalu menjadi permasalahan untuk pulau-pulau terkecil, apalagi di pulau-pulau terluar Indonesia, dengan terbatasnya akses transportasi memang menjadi salah satu alasan utama pemerintah akan pemerataan pembangunan untuk seluruh Indonesia, bisa dibayangkan bukan? Namun dibalik semua kekurangan itu, ada sebuah kebahagiaan tulus dari tawa riang anak-anak di pulau Dullah laut.

Senyum manis yang belum mengerti akan keterbatasan fasilitas di daerahnya
Mereka bermain bebas layaknya burung merpati yang mengikuti naluri bermain yang mendapatkan kepuasan dari rasa keingintahuan mereka, saya yakin mereka anak-anak yang pintar tetapi sayangnya informasi kurang yang mereka miliki karena keterbatasan fasilitas tetap membuat mereka kesulitan bersaing dengan anak-anak dari pulau lain yang memiliki informasi lebih . Belajar dan mengetahui pada perubahan serta perkembang teknologi yang baru merupakan hak semua orang, biarkanlah mereka memilih mana yang terbaik dengan diiringi penyuluhan dan pengawasan yang tepat. Keramahan serta kearifan lokal masyarakatnya masih sangat kental terasa ditambah dengan panorama alam timur yang tak diragukan lagi keindahan menjadikan pulau Dullah Laut sebagai mahakarya dari goresan tinta indah sang maha Pencipta yang bisa kita nikmati di bumi timur Indonesia.

2 comments:

Komentar adalah sepenuhnya tanggung jawab dari pengomentar.
Pihak Yulutrip tidak bertanggung jawab dengan segala isi yang terkandung dalam komentar.
salam \0/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...