Wednesday, November 4, 2015

Akhirnya... Menyaksikan tradisi Mepeed setelah 2 tahun menunggu


Barisan Pembawa Gebogan


Sepeda motor yang kami laju tiba-tiba saja terhenti. kemacetan panjang pun terjadi, suara klakson dan deru desing mesin kendaraan serta asap pembuangannya cukup membuat telinga dan hidung ini gerah. tak ada lampu lalu lintas maupun kecelakaan yang terjadi yang menyebabkan kemacetan panjang ini. gong..gong..trang..trung.. terdengar sayup-sayup suara gamelan dari kejauhan, oh.. Ada upacara ngaben (kematian)  atau pun upacara keagaamaan toh ternyata, ucap kami berdua berbarengan. Bapak-bapak, Ibu-ibu, pemuda-pemudi serta anak-anak berhamburan diluar lengkap dengan pakaian adat yang menempel di tubuh mereka. suara doa-doa yang dipanjatkan pamangku terdengar dengan syahdu dari toa yang dipasang di pura ini.

Tradisi Mepeed

"Yuwi..Yuwi..cepat keluarkan kameramu, teriak Lulu! lihat itu ada barisan canang (sesajen) kuning diatas kepala, wah apa ya itu? sepertinya bukan upacara ngaben yang menghentikan sepeda motor kami, gumam dalam hati. dengan sergap, saya pun langsung turun dari sepeda motor, mengeluarkan kamera dan berjalan mendekati barisan canang yang ditunjukkan Lulu tadi. berbekal senyum dan ijin mengambil foto yang telah saya dapatkan dari salah satu bapak disana. langsung saja saya memulai aksi, Jeprat Jepret dengan nafsu bahagia saat mengambil foto dalam moment yang langka ini.
Pritt...pritt..begitulah suara pluit dari seorang ketua, lantas barisan rapi ibu-ibu yang membawa gebogan dikepala mereka siap berjalan ditemani oleh gamelan yang telah sigap mengiringi dibelakang mereka menuju pura yang berjarak 50 meter.

***
Gebogan sendiri yaitu rangkaian buah, jajanan (makanan cemilan), canang (sesajen) dan bunga yang disusun diatas tempat (dulang), menjulang keatas, bentuknya yang disusun mengkerucut menjadikan gebogan sebuah karya seni, Gebogan juga sebuah persembahan yadnya atas rasa syukur akan anugrah kehidupan, kembali kita nikmati. Intinya “Apa yang kita nikmati, itu yang kita persembahkan ke padaNnya.”

Bila ditelik dari makna filosofi, karena bentuknya yang menjulang mirip seperti gunung, makin keatas makin mengerucut (lancip), dan diatasnya juga diletakkan “canang” dan sampiyan sebagai wujud persembahan dan bhakti kita kehadapan Tuhan sebagai pencipta alam semesta.
Barisan rapi ibu-ibu yang membawa gebogan itu pun disebut Mepeed. Ritual unik yang sering kalian lihat pada kartu-kartu pos Bali pun sudah jarang ditemukan. Hanya pada acara-acara odalan besar pura (keagamaan), Galungan dan Kuningan saja. beruntung kami dapat menyaksikannya secara tidak sengaja ketika kami melewati sebuah pura di daerah Dalung, Tabanan. 

Dalam ritual Mepeed ini, para perempuan pembawa gebogan tadi menggunakan pakaian berkebaya putih lengkap dengan selendang dipinggul dan diminta untuk berbaris panjang. diiringi dengan para laki-laki lengkap dengan pakaian adat yang memainkan gamelan dibelakanganya. sedangkan Mepeed ini sendiri berarti jalan beriringan, dan memiliki makna sebagai perwujudan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.
Para lelaki pemain Gamelan
Rombongan gebogan-gebogan yang siap dijalankan oleh para ibu-ibu dibawa ke pura untuk diberikan air suci (tirtha) oleh pemangku setempat setelah itu acara persembahyangan pun dimulai, selanjutnya ada beberapa yang membawa gebongan itu ke pantai atau melalui persawahan untuk acara sembahyang lanjutan. uniknya gebongan yang diusung dalam ritual mepeed memiliki tinggi rata-rata minimal 1 meter. Bahkan pernah ada yang membawa 2 meter loh wah kuat sekali para wanita Bali ini. Salut!

Akhirnya penantian selama 2 tahun pun terbayar sudah, beruntung sekali kami bisa menyaksikan tradisi ini. Semoga kalian beruntung juga ya kawan ;)
Mengiringi ritual meeped dibelakang





No comments:

Post a Comment

Komentar adalah sepenuhnya tanggung jawab dari pengomentar.
Pihak Yulutrip tidak bertanggung jawab dengan segala isi yang terkandung dalam komentar.
salam \0/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...