Monday, May 23, 2016

Mengantar sang pangeran pulang menuju nirwana

Alm Cok dipindahkan dari Bade Tower ke Lembu Sacrophagus
“Terlihat jelas bade yang menjulang dari kejauhan, seakan benda itu memiliki aura magis yang kuat untuk menarik semua perhatian siapa pun yang melihat bade ini. Sebuah perhelatan besar akan terjadi sebentar lagi ."gumam saya!



Lembu Sacrophagus
Rasa bosan yang menghampiri ditengah rutinitas kerja memaksa saya untuk surfing hal-hal menarik di dunia internet. Seketika scroll mouse saya terhenti pada sebuah postingan di salah satu page community Bali, sebuah postingan yang menarik semua perhatian saya untuk beberapa saat “Akan diadakan Royal Ngaben di Ubud esok hari”  segera saya luangkan waktu untuk melihat salah satu kebudayaan unik dan langka di Bali.  Terakhir kali saya menyaksikan Royal Ngaben yaitu 2 tahun lalu ketika sang Ratu Ida Dewa Agung Istri Putra dari Klungkung menghembuskan nafas terakhir dan mengantarkannya pulang menuju nirwana. Tanpa berfikir panjang saya raih handphone di samping saya dan memberitahukan info ini ke Lulu lewat Whatsapp.  Kesibukan Lulu saat itu memaksanya untuk tidak dapat menyaksikan event yang satu ini.

Bade Tower 11 grades ketika Pelebon sang Ratu Ida Dewa Agung Istri Putra dari Klungkung 
“Oke jam 9 pagi, kita bertemu di Lio Square.” Message telah saya kirim ke Patryk, salah satu teman kami yang ikut menyaksikan Royal ngaben bersama saya. Wah akan banyak orang yang datang ke acara ini, sebaiknya kami pergi lebih pagi mengingat 1-1,5 jam perjalanan menuju Ubud dari Canggu.

Tower tiba di Pura dalam (kuburan) 
***
Para petugas telah siap untuk mengamankan jalannya acara ini, mereka dengan sigap berdiri di sisi jalan, begitu pula dengan petugas PLN yang tengah berada diatas tiang-tiang listrik untuk membongkar kabel-kabel listrik di sepanjang jalan dari Puri hingga pura dalam yang berjarak sekitar 300 meter.  Pada hari itu akan terjadi dua acara Pelebonan atau Ngaben di Ubud. Seorang kaya raya yang memiliki pesan terakhir untuk dibuatkan lembu atau sarcophagus kerbau yang mana mempunyai makna sebagai kendaraan menuju alam yang tenang dan salah satu pangeran Ubud, Cokorda Putra Widura yang telah meninggal beberapa minggu lalu.  Terik sang mentari tak menyurutkan niat para wisatawan yang telah memadati kawasan sekitar puri ubud, beragam jenis kamera mulai dari kamera handphone, kamera dslr dengan lensa pendek hinggal panjang dan tak tertinggal juga drone yang telah mengudara mengarsipkan setiap moment acara ini. Mendadak café-café dan restaurant sekitar Puri menjadi penuh sebagai tempat melepaskan dahaga dan lelah untuk menunggu mulainya acara ini yang diperkirakan sekitar jam 13:00 WITA.

Terlihat jelas bade yang menjulang dari kejauhan, seakan benda itu memiliki aura yang kuat untuk menarik semua perhatian siapa pun yang melihat bade ini. sebuah perhelatan besar akan terjadi sebentar lagi . lembu sarcophagus dan bade (rumah) telah disiapkan di depan puri, siap untuk mengantar pangeran Cokorda ke peristirahatan yang terakhir tak ketinggalan ribuan wisatawan turut mengantarkannya pula sekaligus menjadi pengalaman berharga dapat menyaksikan acara royal Ngaben ini.

Masyarakat sekitar telah siap memberikan baktinya sebagai penghormatan terakhir untuknya dimana setiap banjar telah mendapatkan tugas untuk menggotong sarcophagus, bade, maupun segala bentuk acara yang dibutuhkan di sini.

Ngiiinngggg trong trong gong… terdengar suara sirine dan tabuhan bale ganjur yang menandakan para pembawa lembu sarcophagus siap jalan, petugas pun mengingatkan para wisatawan untuk merapat ke sisi jalan mengingat masyarakat pembawa lembu akan berlari untuk mengangkatnya. Dilanjutkan dengan keluarnya dua orang putri cantik yang duduk dengan anggun diatas tandu lengkap dengan pakaian adat Bali yang melekat ditubuhnya, terdapat beberapa sesajen yang tercengkram erat di tangan kecil mungilnya. cekrak cekrek tak ayal para pemburu foto menjadikannya sebagai salah satu koleksi di album mereka.

***
Sebagai salah satu upacara penting dalam circle kehidupan di dalam ajaran agama Hindu yang artinya upacara kremasi atau pembakaran terhadap jasad jenazah. Ngaben memiliki makna yaitu mengirim jenazah ke kehidupan mendatang, dimana mereka yang telah dingabeni akan melangkah ke tahap reinkarnasi.
Dalam ajaran agama Hindu, jasad manusia terdiri dari badan halus (roh atau atma) dan badan kasar (fisik). Badan kasar dibentuk oleh lima unsur yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta. Kelima unsur ini terdiri dari
·      pertiwi (tanah),
·      teja (api),
·      apah (air),
·      bayu (angin),
·      dan akasa (ruang hampa).
Lima unsur ini menyatu membentuk fisik dan kemudian digerakkan oleh roh. Jika seseorang meninggal, yang mati sebenarnya hanya jasad kasarnya saja sedangkan rohnya tidak. Oleh karena itu, untuk menyucikan roh tersebut, perlu dilakukan upacara Ngaben untuk memisahkan roh dengan jasad kasarnya. Di depan “Bade” terdapat kain putih yang panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya. Di setiap pertigaan atau perempatan maka “Bade” akan diputar sebanyak 3 kali. Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yang dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju Dewa yang ada di lautan. (info dari http://pusakapusaka.com/)


**
Para keluarga memberikan sesajen dan berputar 3 kali sebelum raga sang pangeran di ngaben
Beberapa minggu yang lalu, Bali khususnya masyarakat daerah Ubud telah kehilangan salah satu kerabat, orang terkasih, putra kebanggan raja Ubud yaitu Cokorda Putra Widura telah berpulang ke ibu pertiwi, penyakit asthma yang dideritanya kini tak lagi menyakiti tubuhnya. Persiapan yang dilakukan selama kurang lebih sebulan akhirnya hari baik itu jatuh pada tanggal 8 May 2016. Seperti yang kalian ketahui bahwa Bali masih mengenal sistem kasta dalam lapisan masyarakatnya yaitu
  • ·      Brahmana (pendeta)
  • ·      Ksatria (penguasa / ksatria )
  • ·      Wesia (pedagang )
  • ·      Sudra (petani)

Perjalanan terakhir sang pangeran di dunia
Sebagai anggota keluarga kerajaan dimana memiliki kasta ksatria, ngaben atau pelebon untuk Cok sendiri dilakukan meriah dimana terdapat bade (wadah) yang memiliki 9 tingkat tingginya. Dia dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan baik dikeluarga maupun lingkungan disekitarnya dan aura kesedihan masih terasa saat upacara ini dilakukan.
Finally may your onward journey be a good one to peacefull place and you will be missed as always. Thank you, you gave us nice experience in the last your on the earth with Royal Ngaben.
One of toursit attraction, totalitas tanpa batas untuk mengabdikan setiap moment



No comments:

Post a Comment

Komentar adalah sepenuhnya tanggung jawab dari pengomentar.
Pihak Yulutrip tidak bertanggung jawab dengan segala isi yang terkandung dalam komentar.
salam \0/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...